Friday, May 14, 2021

Jiwa vs Ego

Dialog internal dapat diartikan sebagai dialog antara ego dan jiwa atau hati nurani kita. Ego mewakili keegoisan, jiwa kita sebagaimana Tuhan di dalam diri kita mewakili ketungggalan dan tidak mementingkan diri sendiri.

Bisikan ego didasari oleh nafsu, amarah, keserakahan, iri hati dan kebingungan. Sementara nurani dari jiwa didasarkan pada kedewataan, kesetaraan dan kebenaran.

Setiap hal yang kita amati menimbulkan dialog internal dalam diri kita. Semuanya benar-benar tergantung pada kebijaksanaan kita untuk menilainya. Setiap saat pilihan pilihan itu adalah murni milik kita. Satu hal memiliki lebih dari satu atau banyak perspektif. Kebijaksanaan atau pengetahuan suci kita memiliki peran tertinggi untuk memilih atau mengafirmasi hal tersebut.

Kebiasaan memilih dialog internal yang menentukan keadaan masa depan. Bila mau memilih masa depan yang lebih baik, afirmasilah yang lebih baik. Sebagai contoh:'waduh saya sakit, saya tidak mungkin sembuh (kata dokter)'. Saat itu juga kita bisa memilih atau mengafirmasi yang lebih baik misalnya 'Saya tidak sakit, ini hanyalah sekedar gejala dari tubuh saya yang ajaib ini. Yang disebut sakit oleh orang lain (termasuk dokter) hanyalah energi yang baik yang dianugerahkan kepada saya agar kekebalan tubuh saya bisa berlatih sehingga menjadi semakin kuat'.

Non-judgement dapat diartikan bahwa kita membebaskan diri dari menilai apa yang benar dan salah tetapi berusaha untuk menerima penegasan yang paling bijak dalam dialog internal kita.

Batas antara benar dan salah, ego & jiwa, kebahagiaan dan kesenangan yang salah benar-benar sangat tipis bagi mereka yang masih bingung. Tetapi bagi mereka yang telah mencapai pencerahan dapat melihatnya dengan sangat jelas. Contoh-contoh di bawah ini mungkin perbedaan ciri ciri ego & jiwa:

(1) * Jiwa: Tenang dan Damai. Ia tidak goyah karena fokus pada kebahagiaan batin. Tidak banyak terganggu oleh hiruk-pikuk lingkungan sekitar. * Ego: Penuh Goncangan. Sangat rentan karena menggantungkan kebahagiaannya pada penilaian orang lain. Panik, terburu-buru adalah karakteristik lain dari ego.

(2) * Jiwa: Merasa Sama. Setiap orang diberikan talenta berbeda. Kita dapat mengendarai mobil karena beberapa orang lain mampu membuatnya. Kita bisa menggunakan komputer meski tidak semua dari kita adalah penemu komputer. Pembuat komputer dapat makan makanan yang baik karena beberapa orang lain diberkati dengan bakat besar menjadi juru masak. * Ego: Merasa Lebih Tinggi atau Superior. Anda tidak bisa menjadi bos tanpa orang lain menjadi karyawan. Tidak peduli seberapa pintar anda jika tidak ada yang memilih menjadi petani, anda mati. Jadi, keberadaan kita adalah untuk saling melengkapi satu sama lain.

(3) * Jiwa: 'Fokus Pada Evolusi Jiwa Yang Abadi'. Ia tahu bahwa hidup ini terlalu singkat untuk melakukan hal-hal buruk seperti menipu, tidak jujur, menjadi tamak, marah, iri, stres, dan hal-hal negatif lainnya yang tidak membantu jiwa untuk berevolusi menjadi makhluk yang lebih tinggi. Ia mencari kebahagiaan yang suatu saat tidak akan berubah menjadi penderitaan panjang bagi dirinya dan orang lain. * Ego: 'Mencari Sukacita Jangka Pendek'. Tidak disadari bahwa pilihan itu menyebabkan rasa sakit jangka panjang bagi pelaku dan orang lain. Sebagai contoh, orang tua yang ego bercerai dan membiarkan anak-anak mereka menderita secara mental.

 (4) * Jiwa: 'Universal dan Berfikiran Terbuka'. Doanya untuk Alam Semesta dan semua isinya. Ia menghormati orang lain seperti menghargai diri sendiri. Melihat semua orang sebagai Tuhan dalam wujud yang berbeda. * Ego: 'Exclusif dan Berfikiran Picik'. Karena merasa berbeda dengan orang lain, ia berpikir dapat melakukan apa saja untuk memenuhi keinginannya bahkan dengan mengorbankan orang lain.

Diri kita yang sebenarnya adalah penegasan dialog internal kita. Kita tidak perlu berpura-pura menjadi orang baik sementara itu di dalam diri kita tidak. Menjadi munafik adalah cara hidup paling buruk. Kita tidak bisa menipu siapa pun. Tuhan dan Alam Semesta telah menetapkan hukum Karma. Apa yang disemai akan dipetik. Suatu saat, kita masing-masing harus membayar tagihan kita sendiri.

Beberapa cara untuk memenangkan dialog internal demi evolusi jiwa anda:

1. Memahami bahwa setiap saat anda sedang diuji. Luluslah dari tes.

2. Ubahlah bisikan ego, ajak bergabung menjadi energi positif dan membangkitkan semangat dari                     kedewataan.

3. Lakukan meditasi yang berisi doa untuk alam semesta dan semua isinya tidak hanya untuk diri     sendiri,     keluarga atau kelompok.

4. Jadilah sempurna dalam ucapan dan perilaku.

5. Hindari sikap munafik.

6. Bersyukur setiap saat, lakukan pengulangan. Katakan dalam hati: Aku sehat, aku bahagia, aku     diberkati     dengan hidup ini.

7. Selalu fokus pada sisi baik siapapun atau apa pun.

Spirit vs Ego

Internal dialogue may be understood as the dialogue between our ego and our soul or conscience. Ego represents selfishness, our spirit as it is God inside us represents oneness and selflessness.   

The whispers of your ego based upon lust, anger, greed, envy and confusion. Meanwhile your conscience of your spirit based upon divinity, equality and truthfulness.   

Every single matter that we observe evokes internal dialogue within us. Anything really depends on our wisdom to judge. We have choices at anytime and, the choice is ours. One thing has more than one or many perspectives. Our wisdom has its utmost role to choose our affirmation.

Your habit of choosing your internal dialogue might determine your future statement.

Non judgment might mean that we are freeing ourselves from judging what’s right and wrong but endeavoring to take the wisest affirmation within our internal dialogue.   

The border between right and wrong, ego & spirit, happiness and fallacious fun is truly flimsy for those who are still confused. But for those who have gained enlightenment can see it very clear. These samples below might be differences of characteristics of ego & spirits:   

(1)    *Spirit: Restful and Peaceful. It is immovable because it is focus on inner happiness. It is not much bothered by hustle and bustle of surroundings. *Ego: Full of Turbulence. Very vulnerable because it depends its happiness on others' judgement. Panicking, rush are other characteristic of ego.  

(2)    *Spirit: Feeling Equal. Everyone is bestowed with different talents. We can drive a car because some other fellow human beings are capable of making them. We can use computer despite not all of us are inventors of computer. Computer makers can eat good food because some other people are blessed with great talent being a cook. *Ego:Feeling Higher or Superior. You can't be a boss without others being employees. No matter how smart you are if none choose being farmers, you die. So our existence is to compliment one to the other.  

(3)    *Spirit: 'Focus On The Evolution Of Immortal Soul'. It knows this life is too short to do bad things like cheating, being dishonest, being greedy, angry, envy, stressful and other negative things that doesn't help the soul to evolve into higher being. It seeks happiness that will not turn into long term misery for himself and others. *Ego: 'Seeking Short Term Joys'. It doesn't realize that the choice cause long term pain for the doer and others. For example ego parents part ways and let their kids mentally suffering.

 (4)    *Spirit: ‘Universal and Opened Minded'. Its prayer is for the Universe and all its contents. It respects others like respecting self. Seeing everyone as God in different form. *Ego: 'Exclusive  and Narrow Minded'. When it feels different to others, it thinks it can do anything to fulfill its desires even by sacrificing others.     

The real us is our internal dialogue affirmation. We don’t need to pretend to be a good person meanwhile inside of us is not. Being hypocritical is the worst way of life. We cannot cheat anyone. God and Universe have established the law of Karma. What goes around will come around. At the end of the day, each of us has to pay our own bill.    

Some ways to win your internal dialogue for the sake of your spirit evolution:

1.       Understand that you are being tested at anytime. Pass the test.

2.       Transmute the whispers of the ego into positive and uplifting energy of divinity.

3.       Do meditation that praying for universe and all its contents not only for yourself, family or                             your group.

4.       Be impeccable in your speech and behaviors.

5.       Avoid being hypocritical.

6.       Be grateful in every moment do repetition. Say in your heart: I am healthy, I am happy, I am                        blessed with this life.

7.       Always focus on the bright side of anyone or anything.  

Friday, May 7, 2021

wisdom and abundance

 Wisdom is a good collection of knowledge.  Knowledge gained from our own experiences or from the experiences of others can make us wiser.  Knowledge from others can be obtained from reading, hearing or seeing.  The more we have knowledge, the more important life decisions we make tend to be better.


 A person's ego can be greatly diminished by wisdom.  The ability to see things from multiple perspectives makes people more open.  Openness creates harmony because someone who is open will stay away from judgmental behavior partially and negatively.  Often disputes occur only because of a narrow understanding or knowledge of something.


 Wisdom is very important and it is better to be wise before it becomes abundant.  A person who has abundant wealth, but is not wise, will not give maximum benefit.  Even by abundance people can become self-forgetful and eventually fall into an unrighteous life.  We witness a lot of events like this in life.  Even wisdom is the most valuable treasure in human life.  Knowledge is memory and is a body of knowledge that always accompanies the soul in its eternal evolution.


 Wealth after all is a fortune even though most of us don't admit it.  Humans feel happier when the abundance they have is called as the result of a hard work rather than being lucky.  Even though no matter how hard you work, the luck factor is the most important.  When someone who is ignorant or unwise loses his abundance it will be more difficult for them to reverse this abundance.  However, those who are wise will always be in control and with awareness, rebuilding abundance or luck is easier.  Intuition is nothing more than a good collection of knowledge.

Kebijaksanaan Dan Keberlimpahan

 Kebijaksanaan merupakan kumpulan pengetahuan yang baik. Pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sendiri atau dari pengalaman orang lain bisa menjadikan kita lebih bijaksana. Pengetahuan dari orang lain bisa didapat dari membaca, mendengar atau melihat. Semakin banyak kita memiliki pengetahuan maka keputusan keputusan penting dalam hidup yang diambil cenderung menjadi lebih baik.

Ego seseorang bisa sangat jauh berkurang oleh kebijaksanaan. Kemampuan melihat sesuatu dari banyak perspektif membuat orang menjadi lebih terbuka. Keterbukaan menciptakan keharmonisan karena seseorang yang terbuka akan jauh dari perilaku menghakimi secara parsial dan negatif. Seringkali perselisihan terjadi hanya karena pemahaman alias pengetahuan yang sempit terhadap suatu hal.

Kebijaksanaan sangatlah penting bahkan lebih baik bijaksana dulu sebelum berlimpah. Seseorang yang memiliki harta yang berlimpah sekalipun namun belum bijaksana maka keberlimpahan itu tidak akan memberi manfaat maksimal. Bahkan oleh keberlimpahan orang bisa menjadi lupa diri dan pada akhirnya terjerebab dalam kehidupan tidak benar. Kita banyak sekali menyaksikan kejadian kejadian seperti ini dalam kehidupan. Bahkan kebijaksanaan adalah harta paling berharga dalam kehidupan manusia. Pengetahuan adalah memori dan merupakan badan pengetahuan yang selalu menemani sang jiwa dalam evolusinya yang abadi.

Kekayaan bagaimanapun adalah sebuah keberuntungan yang walaupupun sebagian besar dari kita tidak mengakuinya. Manusia merasa lebih senang apabila keberlimpahan yang mereka miliki disebut sebagai hasil kerja keras daripada keberuntungan. Padahal sekeras apapun anda bekerja faktor keberuntungan adalah yang paling utama. Ketika seseorang yang tidak berpengetahuan atau belum bijaksana kehilangan keberlimpahannya maka akan lebih sulit bqgi mereka untuk membalikkan keberlimpahan itu. Namun bagi mereka yang sudah bijaksana akan selalu terkendali dan dengan kesadaran membangun kembali keberlimpahan atau keberuntungan itu dengan lebih mudah. Intuisi tidaklah lebih dari kumpulan pengetahuan yang baik.

Monday, May 3, 2021

Detachment of Results

 Doing good is an act that frees oneself from the results of the action itself.  Several times we hear people say, 'we helped him so much but now he doesn't remember it at all'.  This remark describes insincerity in doing.  So if you can't sincerely help others, don't ever push yourself because maybe if not we can help there will be other people who are more worthy of helping them.


 Render a help if only we do have fun doing it.  If we help, but in our hearts our intention is one day so that the person can help us back, it means we give energy or pray for ourselves so that one day we can be helped or need help.  Isn't this what we don't want? Always being the giver is much better.


 Some say, 'I would be nice to him if only he were nice to me'.  We should realize that doing good thing is solely for our own happiness.  Kindness does not have to be reciprocated by kindness immediately.  Our kindness towards person A does not have to be repaid by person A but by an infinite nature, person B, person C can repay ...  persistently do good.  When and by whom kindness is reciprocated, the time space has the right to determine.  Our job is just to be consistent in doing good thing even to bad people.


 In reality the energy we emit from our feelings and thoughts is captured by others.  Many times I have proven that person A is called bad by others but every time I meet him I wish him goodness and believe that he is good, it turns out that I always find his bright side and we always feel comfortable each other.


 To change others we may only need to change our energy first.  Every time we give good vibrations we can ignore any reactions from others because doing good is basically just to please ourselves but over time that energy will be contagious.  Be kind to everyone and everything because it will give us good feelings. Ignore the reactions of others. This way of live makes us invincible.

Kebebasan Terhadap Hasil Perbuatan

 Berbuat baik adalah perbuatan yang membebaskan diri akan hasil dari perbuatan itu sendiri. Beberapa kali kita mendengar orang berucap, 'dulu begitu banyak kita membantunya tapi sekarang dia sama sekali tidak mengingatnya'. Ucapan ini menggambarkan ketidaktulusan dalam berbuat. Jadi bila belum bisa tulus membantu orang lain jangan pernah memaksakan diri karena mungkin saja kalau tidak kita yang bisa membantu akan ada orang lain yang lebih layak membantunya. 

Membantulah karena kita memang bersenang senang melakukannya. Bila kita membantu namun dalam hati suatu saat agar yang bersangkutan bisa balik membantu kita itu artinya kita memberi energi atau mendoakan diri sendiri agar bisa dibantu suatu saat. Bukankah tidak ini yang kita niatkan. Selalu bisa menjadi si pemberi adalah jauh lebih baik. 

Ada yang berkata, 'saya akan baik padanya bila dia baik pada saya'. Harusnya kita menyadari bahwa berbuat baik semata mata untuk kebahagiaan diri sendiri. Kebaikan tidak harus dibalas kebaikan secara serta merta. Kebaikan kita terhadap si A tidak harus dibalas baik oleh si A namun oleh alam yang maha tidak terbatas bisa dibalas oleh si B, si C ...Namun tanpa terikat akan hasil segala kebaikan pasti akan berbuah kebaikan namun kesabaranlah satu satunya yang dapat membuat kita secara persisten berbuat baik. Kapan dan oleh siapa kebaikan terbalas sang rung waktu yang berhak menentukan. Tugas kita hanyalah tetap konsisten berbuat baik sekalipun kepada orang yang tidak baik.

Pada kenyataannya energi yang kita pancarkan dari rasa dan pikiran kita ditangkap oleh yang lain. Berkali kali saya buktikan katanya si A tidak baik oleh orang lain namun setiap kali saya bertemu dengannya saya mendoakan kebaikan baginya dan meyakini si A baik ternyata saya selalu menemukan sisi baiknya si A dan kami selalu merasa nyaman satu sama lain.

Untuk merubah yang lain kita mungkin hanya perlu merubah energi kita terlebih dahulu. Setiap kali kita memberi vibrasi yang baik kita dapat mengabaikan apapun reaksi dari yang lain karena berbuat baik semata mata hanya untuk menyenangkan diri sendiri namun berjalannya waktu energi itu akan menular dengan baik. Berprasangkalah baik pada semuanya karena akan memberi perasaan yang baik pada diri kita sendiri. Baiklah pada semuanya dan abaikan reaksi apapun dari yang lain karena cara hidup seperti ini membuat kita tak terkalahkan.

A Wise Old Soul

 Age often does not determine a person's level of wisdom.  Our innermost self, the soul, has experienced many experiences of life than before.  The physical body that is occupied is different.  We have undergone different body evolution, not even from apes, but before that the experts said that the previous form was fish.


 A soul who has experienced life as a human being hundreds or dozens of times will certainly have a much better experience with a soul that has experienced only a few times.  Our children who in this life cycle we consider much younger than us may be souls who are much older.  This is also why many people are old but not wise, other words are old but not yet mature.


 Understanding the immortal soul who every birth only requires a valuable experience for evolution for himself, so it is true that this life is just a ride through of a journey alone is not a final destination so be happy and learn in every moment of this journey.  The good thing is that when we are at birth as humans we can determine our evolution with consciousness because with thoughts and feelings we can change any form of physical state or the next birth consciously.  The awareness and wisdom we have makes it easier for us to choose our next evolution.  For other beings who live only on instinct, they have to follow natural processes which may be very slow.


 The birth of a human should be very grateful for the ability to determine a life that is getting more and more perfect with every birth.  It should also be interpreted that we are still grateful for the achievements we get in this life cycle, but the soul's eternal journey must be a priority.  Suppose you are very abundant now in a greedy way, hurting others, taking what is not rightfully yours and then being born next have to suffer again being a weak handicapped being with decreased consciousness.  Then what are the benefits of a life that is repeated, miserable, conscious, happy again, and suffering.


 Achieve everything in the right way so that you can always give happiness and freedom to the soul so that with every birth the soul becomes wiser.

Jiwa Tua Yang Bijaksana

 Umur seringkali tidak menentukan tingkat kebijaksanaan seseorang. Diri kita yang terdalam yaitu sang jiwa sudah mengalami banyak pengalaman pengalaman hidup dari sebelumnya. Tubuh fisik yang ditempatipun berbeda beda. Kita telah mengalami evolusi badan yang berbeda beda bahkan bukan dari kera saja namun sebelum itu para ahli mengatakan wujud sebelumnya adalah ikan. 

Sang jiwa yang sudah mengalami pengalaman hidup sebagai manusia ratusan atau puluhan kali tentu memiliki pengalaman yang jauh lebih baik dengan jiwa jiwa yang baru berpengalaman hanya beberapa kali saja. Anak anak kita yang dalam satu siklus hidup ini kita anggap jauh lebih muda dari kita mungkin saja merupakan jiwa jiwa yang jauh lebih tua. Ini juga sebabnya banyak orang yang sudah berumur namun belum bijaksana kata lainnya sudah berumur namun belum dewasa.

Memahami sang jiwa yang abadi yang disetiap kelahiran hanya memerlukan pengalaman berharga untuk evolusi bagi dirinya maka benarlah bahwa hidup ini hanyalah numpang lewat alias perjalanan semata bukan sebuah destinasi akhir maka berbahagialah dan belajarlah dalam setiap momen perjalanan ini. Hal baiknya ketika kita sudah berada pada kelahiran sebagai manusia kita dapat menentukan evolusi kita dengan kesadaran karena dengan pikiran dan rasa kita bisa merubah segala bentuk keadaan fisik atau kelahiran berikutnya secara sadar. Kesadaran dan kebijaksanaan yang kita miliki membuat kita lebih mudah untuk memilih evolusi kita berikutnya. Bagi makhluk lain yang hanya hidup berdasarkan insting semata harus mengikuti proses alam yang mungkin sangat lambat. 

Kelahiran sebagai manusia harus disyukuri dengan sangat mendalam karena kemampuan untuk menentukan kehidupan yang makin sempurna disetiap kelahiran. Ini juga hendaknya dimaknai bahwa capaian capaian yang kita dapatkan dalam satu siklus kehidupan ini tetap kita syukuri namun perjalanan jiwa yang abadi harus dijadikan prioritas. Misalnya anda sangat berlimpah saat ini dengan cara cara serakah, menyakiti yang lain, mengambil yang bukan menjadi hak anda lalu dikelahiran berikutnya harus menderita lagi menjadi makhluk cacat yang lemah dengan kesadaran yang menurun. Terus manfaatnya apa kehidupan yang berulang ulang lagi sengsara lagi sadar, lagi senang lagi menderita. 

Raihlah segala sesuatu dengan jalan yang benar agar selalu dapat memberi kebahagiaan dan kebebasan bagi sang jiwa sehingga disetiap kelahiran menjadi jiwa yang semakin bijaksana.

Life is playful and happiness is the essence of everything

 There is a saying 'Don't take life too seriously'.  There are more planets in the universe than there are grains of sand on the coast.  Our Mother Earth is that grain of sand and we live on it.  So whatever our achievements as humans, namely creatures that live on a grain of sand, will not really matter to the universe unless everything we do is oriented towards the infinite salvation of the universe.  Boasting with whatever advantages we have including position, wealth, intelligence, handsome faces, power, strength are things that humans are not smart to do, moreover if the way to achieve them in an improper way.



 Everything we have belongs to the universe, belongs to the Supreme Being and can be taken back at any time, even including our souls.  When a tsunami must occur, it takes thousands or even millions of human souls at once, nature doesn't care if you are rich, smart, beautiful, have a position, etc.  Humans are like a collection of ants who are simply doused with a bucket of water all washed away.  Covid, the HIV virus is a very tiny creature that has been proven to have taken many human lives.  This virus teaches humans that humans are not worthy of being arrogant with whatever they have.  Those who felt the smartest before Covid were the least smart.  Who feels the greatest is nobody.  Those who feel that their plans had always succeeded before Covid, even as if they deify themselves to be helpless.  The slogan man can plan God determines ultimately applies here.  Our job is only to do with sincerity, not to be bound by the results of being valid by the virus.  Humans who feel bragging because of their much larger body size are discouraged by the tiny virus.



 So stop being so serious about life.  We do not know when we will vanish from this earth and the soul must continue the eternal journey to the next stage.  At least the last memory is filled with truth, goodness, loyalty, purity of practice and happiness as the true nature of the soul, namely true happiness and freedom.  Make every moment in life happy.  Happy for yourself, for others, for the universe and all of its contents.  Choose the mode (mood), feelings, happy thoughts in any condition.  Do not pursue success at the expense of happiness because soon or tomorrow you may not be here.  After all, success has a lot of faces.  And in the end the most successful people are actually the ones who choose to be unconditionally happy every time.

Hidup Adalah Main Main Dan Bahagia Adalah Esensi Dari Semuanya


Ada pepatah mengatakan 'Don't take life too seriously'. Ada lebih banyak planet di alam semesta dibandingkan dengan jumlah butiran pasir di pantai. Ibu Pertiwi kita bumi ini adalah sebutir pasir itu dan kita hidup diatasnya. Jadi apapun pencapaian kita sebagai manusia yaitu makhluk yang hidup diatas sebutir pasir tadi tidak akan terlalu berarti bagi semesta kecuali setiap apa yang kita lakukan berorientasi pada keselamatan semesta yang maha tidak terbatas. Menyombongkan diri dengan kelebihan apapun yang kita miliki termasuk jabatan, kekayaan, kepintaran, wajah tampan, kekuasaan, kekuatan adalah hal yang paling tidak pintar dilakukan manusia apalagi meraihnya dengan cara cara tidak benar. 


Semua yang kita miliki adalah milik semesta, milik yang Maha Agung dan setiap saat bisa diambil kembali bahkan termasuk jiwa kita. Ketika tsunami harus terjadi mengambil ribuan bahkan jutaan jiwa manusia sekaligus, alam tidak peduli apakah anda kaya, pintar, cantik, punya jabatan dsb. Manusia laksana kumpulan semut yang cukup disiram dengan seember air push semua hanyut. Covid, virus HIV adalah makhluk sangat kecil yang terbukti sudah mengambil banyak nyawa manusia. Virus ini mengajarkan manusia bahwa manusia tidak layak sombong dengan apapun yang dimilikinya. Yang merasa paling pintar sebelum Covid menjadi yang paling tidak pintar. Yang merasa paling hebat menjadi bukan siapa siapa. Yang merasa rencana rencananya selalu berhasil sebelum Covid bahkan seolah olah menuhankan dirinya sendiri menjadi tidak berdaya. Slogan manusia bisa berencana Tuhan menentukan pada akhirnya berlaku disini. Tugas kita hanya mengusahakan dengan ketulusan hati jangan terikat dengan hasil menjadi valid oleh sang virus. Manusia yang merasa jago karena ukuran tubuh yang jauh lebih besar menjadi ciut nyali oleh sang virus yang super kecil.


Jadi berhentilah terlalu serius dalam menghadapi hidup. Kita tidak tahu kapan akan selesai di bumi ini dan sang jiwa harus melanjutkan perjalanan abadi ke tahapan berikutnya. Paling tidak memori terakhir terisi oleh kebenaran, kebaikan, kesetiaan, kesucian laku dan kebahagiaan sebagai sifat sejati sang jiwa yaitu kebahagiaan dan kebebasan sejati. Buat setiap momen dalam hidup ini bahagia. Bahagia bagi diri, bagi yang lain, bagi semesta beserta dengan semua isinya. Pilih mode (mood), perasaan, pikiran bahagia dalam kondisi apapun. Jangan mengejar kesuksesan dengan mengorbankan kebahagiaan karena sebentar lagi atau besok belum tentu anda ada disini. Toh juga kesuksesan memiliki muka yang sangat banyak. Dan pada akhirnya orang yang paling sukses sesungguhnya adalah orang yang memilih bahagia tanpa syarat setiap saat.🌞🌙🙏

Sunday, May 2, 2021

Menyatu Dengan Semesta

 Kita semua adalah bagian dari semesta yang tidak terbatas dan tunggal. Yang tunggal adalah semesta demikian juga yang terpolarisasi. Kita merasa terpisah dengan semesta hanya karena ego kita. Ego kita termasuk nama, bangsa, agama atau keyakinan, kepemilikan, jabatan, status dan segala embel embel kita yang lain. 

Akan tetapi udara yang kita hirup adalah tunggal, air yang memberi dan memelihara kehidupan kita, bumi, langit yang melindungi kita, api kehidupan yang ada di alam semesta dan yang ada dalam setiap makhluk sesungguhnya adalah tunggal. Ini sebabnya mengapa sebagian besar keyakinan meyakini Tuhan adalah Esa namun Tuhan juga yang terpolarisasi yang memberi kehidupan bagi semua makhluk.

Tuhan disebut sebagai Jiwa Yang Maha Agung yang memberi jiwa pada semua jiwa yang ada. Perasaan terpisah, perasaan keakuan atau ego memiliki energi yang kecil dan lemah. Bila kita umpamakan masing masing dari kita adalah tetesan tetesan air yang membentuk samudera yang maha luas bukankah bila setetes air yang terpisah dari samudera memiliki kekuatan yang sangat kecil. Setetes air yang terpisah itu bila dituangkan ke tanah dia akan langsung lenyap. Namun bila tetesan tetesan air itu bersatu menjadi samudera, maka dia bisa memberi kehidupan bagi semua makhluk yang ada di samudera bahkan bisa menghempaskan atau menenggelamkan daratan. 

Atas hukum sebab akibat bila kita selalu mendoakan dan berbuat demi kebaikan semesta beserta semua isinya maka kekuatan kitapun tidak lepas dari kekuatan semesta. 

Dalam skup yang lebih kecil segala sesuatu yang dikerjakan bersama akan menjadi ringan. Bagaimanapun ego kita harus kita satukan dengan semesta sehingga memiliki kekuatan yang tak terbatas. Bila kita meyakini semua adalah tunggal dari semesta, pemahaman ini juga akan mengurangi perilaku ego yang sempit seperti kesombongan karena tidak ada sama sekali yang perlu disombongkan karena semua adalah milik semesta. Tidak akan ada lagi bentuk bentuk kejahatan terhadap yang lain karena kesadaran bahwa kita juga adalah yang lain. 

Being United With Universe

 We are all part of an infinite and single universe.  What is singular is a universe as well as a polarized one.  We feel separated from the universe only because of our ego.  Our ego includes name, nation, religion or belief, ownership, position, status and all our other appendages.


 However, the air we breathe is single, the water that gives and sustains our life, the earth, the sky that protects us, the fire of life that exists in the universe and that exists in every creature is really single.  This is why most beliefs believe that God is One but also a polarized God who gives life to all beings.


 God is called the Supreme Soul who gives souls to all existing souls.  The feeling of separation, the feeling of selfishness or ego has little energy and is weak.  If we suppose that each of us is a droplet of water forming a vast ocean, wouldn't it be that a drop of water separated from the ocean has very little power.  That separated drop of water when poured on the ground it will immediately disappear.  However, if the water droplets unite into the ocean, then it can give life to all creatures in the ocean and can even blow or drown the land.


 Due to the law of cause and effect, if we always pray and do things for the good of the universe and all its contents, then our strength cannot be separated from the power of the universe.


 In a smaller scope everything that is done together will be lighter.  However, our ego must be united with the universe so that it has unlimited power.  If we believe that all is single from the universe, this understanding will also reduce narrow minded ego behavior such as arrogance because there is absolutely nothing to boast about because all belong to the universe.  There will be no more forms of evil against others because of the awareness that we are not different.

Embracing Polarity

 Everything that exists in this world must have its opposite according to the Law of Polarity.  There is day as opposed to night, there is white and black, there are men and women and so on.  Even our earth cannot rotate if there are no two different poles working together.


 We must see the differences as beauties that complement one another.  In our own bodies there are the right and left brains, there are right and left hands, there are right and left legs, each of which is complementary to one another.  It may not be necessary to see that one is better than the other.


 In the wider life too.  We all have different talents, different professions and even different beliefs.  There are Japanese or Americans who are gifted with the ability and talent to make electronic goods, for example.  It is with their talents that in our daily lives we are helped a lot, such as using vehicles, using refrigerators, computers, cellphones, tv, etc.  On the other hand, many Indonesians have talents as farmers and fishermen where their work is sent to Japan or America to meet their food needs.  Just imagine if everyone is only smart in making electronic goods or vice versa.  Then who will be the buyer?  Isn't it just that there will be stagnation.


 The birth of us as humans is due to differences, namely father as a man and mother as a woman.


 There are those who like to sell, lucky there are those who like shopping 🛒.  So peace will be maintained if we can embrace differences.  Don't try to force equality.  Even this universe rotates and develops due to differences.

Merangkul Perbedaan

Segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti ada kebalikannya sesuai dengan Hukum Polaritas. Ada siang kebalikan dari malam, ada putih ada hitam, ada laki ada perempuan dan seterusnya. Bahkan bumi kita tidak bisa berputar bila tidak ada dua kutubnya yang berbeda yang bekerjasama.

Perbedaan mesti kita lihat sebagai keindahan yang saling melengkapi satu sama lainnya. Dalam tubuh kita sendiri ada otak kanan dan kiri, ada tangan kanan dan kiri, ada kaki kanan dan kiri, satu sama lain menjadi pelengkap antara satu dengan lainnya. Mungkin tidak perlu dilihat bahwa yang satu lebih baik dari yang lainnya.

Dalam kehidupan yang lebih luas juga demikian. Kita semua memiliki bakat yang berbeda, profesi berbeda bahkan keyakinan berbeda. Ada orang Jepang atau orang Amerika yang dianugerahi kemampuan dan bakat dalam membuat barang barang elektronik misalnya. Dengan bakat mereka inilah dalam kehidupan kita sehari hari kita banyak terbantu seperti pemakaian kendaraan, penggunaan kulkas, komputer, hp, tv dsb. Sebaliknya banyak orang Indonesia memiliki bakat sebagai petani dan nelayan dimana hasil kerja mereka dikirim ke Jepang atau Amerika untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Bayangkan saja kalau semua hanya pintar membuat barang elektronik saja atau sebaliknya. Terus siapa yang akan menjadi si pembeli? Bukankah hanya akan terjadi kemandegan.

Lahirnya kitapun sebagai manusia karena adanya perbedaan yaitu Ayah sebagai laki laki dan Ibu sebagai perempuan.

Ada yang suka jualan, beruntung ada yang suka shopping 🛒. Jadi kedamaian akan terjaga bila kita bisa merangkul perbedaan. Tidak usah memaksakan persamaan. Semesta inipun berputar dan berkembang karena perbedaan. 

Kagumi

Lihatlah betapa indahnya makhluk ini yang kita sebut sebagai capung. Sepintas pikiran kita mengatakan, ini makhluk biasa saja bahkan ada yan...