Dialog internal dapat diartikan sebagai dialog antara ego dan jiwa atau hati nurani kita. Ego mewakili keegoisan, jiwa kita sebagaimana Tuhan di dalam diri kita mewakili ketungggalan dan tidak mementingkan diri sendiri.
Bisikan ego didasari oleh nafsu, amarah,
keserakahan, iri hati dan kebingungan. Sementara nurani dari jiwa didasarkan
pada kedewataan, kesetaraan dan kebenaran.
Setiap hal yang kita amati menimbulkan dialog
internal dalam diri kita. Semuanya benar-benar tergantung pada kebijaksanaan
kita untuk menilainya. Setiap saat pilihan pilihan itu adalah murni milik kita.
Satu hal memiliki lebih dari satu atau banyak perspektif. Kebijaksanaan atau
pengetahuan suci kita memiliki peran tertinggi untuk memilih atau mengafirmasi
hal tersebut.
Kebiasaan memilih dialog internal yang
menentukan keadaan masa depan. Bila mau memilih masa depan yang lebih baik,
afirmasilah yang lebih baik. Sebagai contoh:'waduh saya sakit, saya tidak
mungkin sembuh (kata dokter)'. Saat itu juga kita bisa memilih atau mengafirmasi
yang lebih baik misalnya 'Saya tidak sakit, ini hanyalah sekedar gejala dari
tubuh saya yang ajaib ini. Yang disebut sakit oleh orang lain (termasuk dokter)
hanyalah energi yang baik yang dianugerahkan kepada saya agar kekebalan tubuh
saya bisa berlatih sehingga menjadi semakin kuat'.
Non-judgement dapat diartikan bahwa kita membebaskan diri dari
menilai apa yang benar dan salah tetapi berusaha untuk menerima penegasan yang
paling bijak dalam dialog internal kita.
Batas antara benar dan salah, ego & jiwa, kebahagiaan
dan kesenangan yang salah benar-benar sangat tipis bagi mereka yang masih
bingung. Tetapi bagi mereka yang telah mencapai pencerahan dapat melihatnya
dengan sangat jelas. Contoh-contoh di bawah ini mungkin perbedaan ciri ciri ego
& jiwa:
(1) * Jiwa: Tenang dan Damai. Ia tidak goyah
karena fokus pada kebahagiaan batin. Tidak banyak terganggu oleh hiruk-pikuk
lingkungan sekitar. * Ego: Penuh Goncangan. Sangat rentan karena menggantungkan
kebahagiaannya pada penilaian orang lain. Panik, terburu-buru adalah
karakteristik lain dari ego.
(2) * Jiwa: Merasa Sama. Setiap orang diberikan
talenta berbeda. Kita dapat mengendarai mobil karena beberapa orang lain mampu
membuatnya. Kita bisa menggunakan komputer meski tidak semua dari kita adalah
penemu komputer. Pembuat komputer dapat makan makanan yang baik karena beberapa
orang lain diberkati dengan bakat besar menjadi juru masak. * Ego: Merasa Lebih
Tinggi atau Superior. Anda tidak bisa menjadi bos tanpa orang lain menjadi
karyawan. Tidak peduli seberapa pintar anda jika tidak ada yang memilih menjadi
petani, anda mati. Jadi, keberadaan kita adalah untuk saling melengkapi satu
sama lain.
(3) * Jiwa: 'Fokus Pada Evolusi Jiwa Yang
Abadi'. Ia tahu bahwa hidup ini terlalu singkat untuk melakukan hal-hal buruk
seperti menipu, tidak jujur, menjadi tamak, marah, iri, stres, dan hal-hal
negatif lainnya yang tidak membantu jiwa untuk berevolusi menjadi makhluk yang
lebih tinggi. Ia mencari kebahagiaan yang suatu saat tidak akan berubah menjadi
penderitaan panjang bagi dirinya dan orang lain. * Ego: 'Mencari Sukacita
Jangka Pendek'. Tidak disadari bahwa pilihan itu menyebabkan rasa sakit jangka
panjang bagi pelaku dan orang lain. Sebagai contoh, orang tua yang ego bercerai
dan membiarkan anak-anak mereka menderita secara mental.
(4) * Jiwa: 'Universal dan Berfikiran
Terbuka'. Doanya untuk Alam Semesta dan semua isinya. Ia menghormati orang lain
seperti menghargai diri sendiri. Melihat semua orang sebagai Tuhan dalam wujud
yang berbeda. * Ego: 'Exclusif dan Berfikiran Picik'. Karena merasa berbeda
dengan orang lain, ia berpikir dapat melakukan apa saja untuk memenuhi
keinginannya bahkan dengan mengorbankan orang lain.
Diri kita yang sebenarnya adalah penegasan
dialog internal kita. Kita tidak perlu berpura-pura menjadi orang baik
sementara itu di dalam diri kita tidak. Menjadi munafik adalah cara hidup
paling buruk. Kita tidak bisa menipu siapa pun. Tuhan dan Alam Semesta telah
menetapkan hukum Karma. Apa yang disemai akan dipetik. Suatu saat, kita
masing-masing harus membayar tagihan kita sendiri.
Beberapa cara untuk memenangkan dialog internal demi evolusi jiwa anda:
1. Memahami bahwa setiap saat anda sedang diuji.
Luluslah dari tes.
2. Ubahlah bisikan ego, ajak bergabung menjadi
energi positif dan membangkitkan semangat dari kedewataan.
3. Lakukan meditasi yang berisi doa untuk alam
semesta dan semua isinya tidak hanya untuk diri sendiri, keluarga atau
kelompok.
4. Jadilah sempurna dalam ucapan dan perilaku.
5. Hindari sikap munafik.
6. Bersyukur setiap saat, lakukan pengulangan.
Katakan dalam hati: Aku sehat, aku bahagia, aku diberkati dengan hidup ini.
7. Selalu fokus pada sisi baik siapapun atau apa
pun.