Friday, May 14, 2021

Jiwa vs Ego

Dialog internal dapat diartikan sebagai dialog antara ego dan jiwa atau hati nurani kita. Ego mewakili keegoisan, jiwa kita sebagaimana Tuhan di dalam diri kita mewakili ketungggalan dan tidak mementingkan diri sendiri.

Bisikan ego didasari oleh nafsu, amarah, keserakahan, iri hati dan kebingungan. Sementara nurani dari jiwa didasarkan pada kedewataan, kesetaraan dan kebenaran.

Setiap hal yang kita amati menimbulkan dialog internal dalam diri kita. Semuanya benar-benar tergantung pada kebijaksanaan kita untuk menilainya. Setiap saat pilihan pilihan itu adalah murni milik kita. Satu hal memiliki lebih dari satu atau banyak perspektif. Kebijaksanaan atau pengetahuan suci kita memiliki peran tertinggi untuk memilih atau mengafirmasi hal tersebut.

Kebiasaan memilih dialog internal yang menentukan keadaan masa depan. Bila mau memilih masa depan yang lebih baik, afirmasilah yang lebih baik. Sebagai contoh:'waduh saya sakit, saya tidak mungkin sembuh (kata dokter)'. Saat itu juga kita bisa memilih atau mengafirmasi yang lebih baik misalnya 'Saya tidak sakit, ini hanyalah sekedar gejala dari tubuh saya yang ajaib ini. Yang disebut sakit oleh orang lain (termasuk dokter) hanyalah energi yang baik yang dianugerahkan kepada saya agar kekebalan tubuh saya bisa berlatih sehingga menjadi semakin kuat'.

Non-judgement dapat diartikan bahwa kita membebaskan diri dari menilai apa yang benar dan salah tetapi berusaha untuk menerima penegasan yang paling bijak dalam dialog internal kita.

Batas antara benar dan salah, ego & jiwa, kebahagiaan dan kesenangan yang salah benar-benar sangat tipis bagi mereka yang masih bingung. Tetapi bagi mereka yang telah mencapai pencerahan dapat melihatnya dengan sangat jelas. Contoh-contoh di bawah ini mungkin perbedaan ciri ciri ego & jiwa:

(1) * Jiwa: Tenang dan Damai. Ia tidak goyah karena fokus pada kebahagiaan batin. Tidak banyak terganggu oleh hiruk-pikuk lingkungan sekitar. * Ego: Penuh Goncangan. Sangat rentan karena menggantungkan kebahagiaannya pada penilaian orang lain. Panik, terburu-buru adalah karakteristik lain dari ego.

(2) * Jiwa: Merasa Sama. Setiap orang diberikan talenta berbeda. Kita dapat mengendarai mobil karena beberapa orang lain mampu membuatnya. Kita bisa menggunakan komputer meski tidak semua dari kita adalah penemu komputer. Pembuat komputer dapat makan makanan yang baik karena beberapa orang lain diberkati dengan bakat besar menjadi juru masak. * Ego: Merasa Lebih Tinggi atau Superior. Anda tidak bisa menjadi bos tanpa orang lain menjadi karyawan. Tidak peduli seberapa pintar anda jika tidak ada yang memilih menjadi petani, anda mati. Jadi, keberadaan kita adalah untuk saling melengkapi satu sama lain.

(3) * Jiwa: 'Fokus Pada Evolusi Jiwa Yang Abadi'. Ia tahu bahwa hidup ini terlalu singkat untuk melakukan hal-hal buruk seperti menipu, tidak jujur, menjadi tamak, marah, iri, stres, dan hal-hal negatif lainnya yang tidak membantu jiwa untuk berevolusi menjadi makhluk yang lebih tinggi. Ia mencari kebahagiaan yang suatu saat tidak akan berubah menjadi penderitaan panjang bagi dirinya dan orang lain. * Ego: 'Mencari Sukacita Jangka Pendek'. Tidak disadari bahwa pilihan itu menyebabkan rasa sakit jangka panjang bagi pelaku dan orang lain. Sebagai contoh, orang tua yang ego bercerai dan membiarkan anak-anak mereka menderita secara mental.

 (4) * Jiwa: 'Universal dan Berfikiran Terbuka'. Doanya untuk Alam Semesta dan semua isinya. Ia menghormati orang lain seperti menghargai diri sendiri. Melihat semua orang sebagai Tuhan dalam wujud yang berbeda. * Ego: 'Exclusif dan Berfikiran Picik'. Karena merasa berbeda dengan orang lain, ia berpikir dapat melakukan apa saja untuk memenuhi keinginannya bahkan dengan mengorbankan orang lain.

Diri kita yang sebenarnya adalah penegasan dialog internal kita. Kita tidak perlu berpura-pura menjadi orang baik sementara itu di dalam diri kita tidak. Menjadi munafik adalah cara hidup paling buruk. Kita tidak bisa menipu siapa pun. Tuhan dan Alam Semesta telah menetapkan hukum Karma. Apa yang disemai akan dipetik. Suatu saat, kita masing-masing harus membayar tagihan kita sendiri.

Beberapa cara untuk memenangkan dialog internal demi evolusi jiwa anda:

1. Memahami bahwa setiap saat anda sedang diuji. Luluslah dari tes.

2. Ubahlah bisikan ego, ajak bergabung menjadi energi positif dan membangkitkan semangat dari                     kedewataan.

3. Lakukan meditasi yang berisi doa untuk alam semesta dan semua isinya tidak hanya untuk diri     sendiri,     keluarga atau kelompok.

4. Jadilah sempurna dalam ucapan dan perilaku.

5. Hindari sikap munafik.

6. Bersyukur setiap saat, lakukan pengulangan. Katakan dalam hati: Aku sehat, aku bahagia, aku     diberkati     dengan hidup ini.

7. Selalu fokus pada sisi baik siapapun atau apa pun.

No comments:

Post a Comment

Kagumi

Lihatlah betapa indahnya makhluk ini yang kita sebut sebagai capung. Sepintas pikiran kita mengatakan, ini makhluk biasa saja bahkan ada yan...